Tampilkan postingan dengan label CERPEN. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label CERPEN. Tampilkan semua postingan

Selasa, Oktober 07, 2025

Novel "Behind The Rain" Bab 6 : Undangan Tak Terduga

 Bab 6: Undangan Tak Terduga



Hari itu, Hana baru saja selesai membereskan pekerjaannya saat sebuah pesan muncul di grup penghuni apartemen. Pengumuman dari pengelola, tapi isinya tidak seperti biasanya.

"Kami mengundang seluruh penghuni untuk menghadiri acara potluck komunitas di taman apartemen, Sabtu malam ini. Jangan lupa bawa makanan buatan sendiri untuk berbagi dengan tetangga!"

Hana memandangi pesan itu dengan wajah bingung.

“Potluck? Buatan sendiri?” Hana menghela napas panjang. Membayangkan dirinya harus memasak untuk orang banyak membuat kepalanya pening.

Belum selesai ia mengeluh dalam hati, tiba-tiba ponselnya berbunyi lagi. Kali ini, sebuah pesan pribadi dari nomor tak asing.

Raffa: “Mau masak apa buat potluck? Jangan bilang beli di luar.”

Hana mendengus. “Dia selalu punya waktu untuk ikut campur,” gumamnya.

Balasan cepat meluncur dari jarinya.
Hana: “Belum tahu. Kenapa, memangnya?”
Raffa: “Cuma nanya. Kalau kamu butuh bantuan, aku ada.”
Hana: “Thanks, tapi aku nggak butuh bantuan.”

Hana meletakkan ponselnya dengan perasaan aneh. Ia tahu Raffa suka membuatnya kesal, tapi kali ini tawarannya terdengar tulus.

Persiapan Menu Potluck

Sabtu pagi, Hana memutuskan untuk membuat sesuatu yang sederhana tapi elegan: pasta salad. Resepnya ia temukan di internet, dan sepertinya cukup mudah dilakukan. Dengan penuh semangat, ia pergi ke supermarket untuk membeli bahan-bahan.

Namun, ketika ia kembali ke apartemen dan mulai memasak, sesuatu yang tak terduga terjadi.

Ia salah membeli bahan utama. Bukannya pasta fusilli seperti yang diminta resep, ia malah membeli makaroni kecil.

“Ya ampun, kenapa aku bisa salah?” Hana panik.

Di tengah frustrasi, ketukan di pintu terdengar. Ia membuka pintu dengan wajah setengah kusut, hanya untuk menemukan Raffa berdiri di sana, membawa kantong belanjaan.

“Aku tebak, kamu lagi panik soal masakan?” tanya Raffa dengan senyum usil.

Hana melotot. “Kamu ini cenayang atau apa?”

“Nggak perlu jadi cenayang buat tahu. Aku tahu kamu perfeksionis, pasti masakanmu harus sempurna,” jawab Raffa sambil melangkah masuk tanpa diundang.

“Kamu ngapain bawa belanjaan?”

Raffa mengeluarkan beberapa bahan dari kantongnya. “Aku rencananya mau bikin sup krim, tapi aku bisa bantu kamu dulu kalau butuh. Apa masalahnya?”

Hana menyerah. Ia menceritakan soal kesalahannya membeli pasta.

“Itu masalah kecil,” kata Raffa sambil mengangkat bahu. “Kita bisa ganti resep sedikit.”

“Ganti gimana?”

“Kita bikin salad makaroni. Tambah mayones, keju, dan potongan daging asap. Aku sering bikin ini waktu kuliah. Orang pasti suka.”

Hana ragu sejenak, tapi akhirnya mengangguk. “Baiklah. Tapi kalau gagal, aku akan menyalahkanmu.”

Raffa hanya tertawa.

Bersama di Dapur

Sementara Hana memotong bahan-bahan, Raffa sibuk mencampur bumbu dengan tangan cekatan. Hana harus mengakui, meskipun gaya Raffa agak sembarangan, ia tampak percaya diri.

“Jadi, kenapa kamu tiba-tiba peduli soal acara potluck ini?” tanya Hana, mencoba mengalihkan perhatiannya dari fakta bahwa mereka bekerja sama dengan cukup baik.

“Kadang seru, kan, kenal sama tetangga lain. Lagipula, kamu nggak tahu, mungkin ada yang bawa makanan enak.”

Hana mendengus. “Kamu selalu ada alasan soal makanan.”

“Ya, karena itu penting,” balas Raffa santai. “Dan jujur aja, aku penasaran gimana reaksi orang kalau kita bilang ini hasil kolaborasi.”

Hana menatapnya tajam. “Siapa bilang ini kolaborasi?”

Raffa hanya terkekeh tanpa menjawab.

Acara Potluck

Malam itu, taman apartemen berubah menjadi tempat pesta kecil. Meja-meja panjang diatur rapi, dihiasi makanan buatan para penghuni. Hana meletakkan salad makaroni di salah satu sudut meja, sementara Raffa menaruh sup krimnya tepat di sebelahnya.

“Lihat,” bisik Raffa sambil menunjuk salah satu penghuni yang mengambil salad makaroni mereka. “Dia makan. Dan dia tersenyum.”

Hana memperhatikan dengan rasa bangga kecil yang tak bisa ia sembunyikan. Tapi ia tetap berusaha terlihat biasa saja. “Tentu saja. Itu karena aku yang potong bahan-bahannya.”

Raffa tertawa kecil. “Terserah kamu aja.”

Malam itu berjalan dengan lancar. Mereka bahkan sempat berbincang dengan beberapa tetangga lain, dan untuk pertama kalinya, Hana merasa lebih santai.

Namun, yang membuatnya terkejut adalah saat acara hampir selesai. Raffa tiba-tiba mendekatinya dengan membawa dua gelas minuman ringan.

“Untuk kita,” katanya sambil menyerahkan satu gelas.

“Kenapa tiba-tiba romantis?” Hana menatapnya curiga.

“Bukan romantis. Ini cuma perayaan kecil karena kita nggak berantem hari ini. Jarang terjadi, kan?”

Hana tersenyum tipis. “Baiklah. Untuk tidak berantem.”

Mereka bersulang kecil, dan untuk sesaat, Hana merasa bahwa ada sesuatu yang mulai berubah dalam dinamika mereka. Raffa memang menyebalkan, tapi ia juga membawa kehangatan yang membuat malam itu lebih berwarna

Senin, Agustus 18, 2025

novel "Behind The Rain" Bab 5: Masalah di Kelas Memasak

 Bab 5: Masalah di Kelas Memasak

Minggu pagi itu, Hana memutuskan untuk melakukan sesuatu yang sudah lama ingin ia coba: mengikuti kelas memasak. Ia menemukan kelas tersebut di sebuah studio kuliner kecil di lantai bawah apartemennya.

“Aku harus bisa masak sesuatu yang lebih dari sekadar mie instan,” gumam Hana sambil mendaftar ke kelas yang bertema “Makanan Penutup Elegan untuk Pemula.”

Setelah mengenakan celemek, ia memasuki ruangan yang penuh dengan meja panjang, bahan-bahan segar, dan orang-orang yang tampak antusias. Semua terlihat sempurna sampai seorang peserta baru masuk ke ruangan.

Dan siapa lagi kalau bukan Raffa.

Hana langsung terbelalak. “Kamu ngapain di sini?”

Raffa yang juga mengenakan celemek hanya menyeringai santai. “Ikut kelas memasak, sama kayak kamu. Kenapa?”

“Kamu nggak punya hal lain yang lebih penting?”

Raffa mengangkat bahu. “Aku nggak tahu, belajar masak rasanya penting, kan? Lagi pula, aku sering pesan makanan online. Mungkin ini cara hemat buat makan enak.”

Hana mendengus. “Kamu pasti salah masuk kelas. Ini kelas makanan penutup, bukan kelas bikin mie goreng.”

Raffa terkekeh. “Makanya aku di sini. Biar nambah ilmu.”

Pengajar kelas, seorang wanita paruh baya bernama Bu Ratna, segera meminta semua peserta untuk mengambil posisi di meja masing-masing. Hana mencoba mengabaikan Raffa yang kebetulan berdiri tepat di meja sebelahnya.

Kekacauan di Dapur Mini

Kelas dimulai dengan pembuatan chocolate molten cake, hidangan pencuci mulut klasik yang tampak sederhana, tapi ternyata cukup rumit.

Hana, yang dikenal perfeksionis, mengikuti setiap langkah dengan teliti. Ia mencatat instruksi, mengukur bahan dengan presisi, dan memastikan semuanya berjalan lancar.

Sebaliknya, Raffa tampak seperti anak kecil yang baru pertama kali masuk dapur. Ia mencampur bahan tanpa membaca instruksi, menumpahkan cokelat cair ke meja, dan bahkan hampir menumpahkan gula ke lantai.

“Mas Raffa, tolong lebih hati-hati,” tegur Bu Ratna sambil tersenyum sabar.

Raffa hanya tertawa kecil. “Maaf, Bu. Saya belum terbiasa.”

Hana menghela napas panjang. “Kamu benar-benar nggak cocok di sini.”

Raffa menoleh ke arah Hana sambil tersenyum jahil. “Kamu yang terlalu serius. Masak itu soal seni, bukan matematika.”

“Seni juga butuh aturan,” balas Hana sambil memutar matanya.

Namun, meskipun ia kesal, Hana tidak bisa menahan diri untuk memperhatikan bagaimana Raffa dengan penuh semangat mencoba meskipun hasilnya kacau. Ada sesuatu yang aneh dan… sedikit menggemaskan dalam caranya berusaha.

Ketika Kekacauan Meninggalkan Bekas

Setelah sekitar satu jam, semua peserta diminta memanggang adonan mereka di oven. Hana yakin bahwa miliknya akan sempurna. Sebaliknya, Raffa bahkan tidak yakin apakah adonannya bisa mengeras.

Ketika saatnya tiba untuk mengeluarkan hasil masing-masing, Hana tersenyum puas melihat molten cake-nya yang mengilap dan harum.

Sementara itu, Raffa mengeluarkan sesuatu yang lebih mirip dengan bola cokelat gosong.

“Apa ini?” gumamnya sambil menatap kue buatannya dengan bingung.

Hana tidak bisa menahan tawa. “Itu namanya bencana.”

Raffa ikut tertawa kecil. “Ya, tapi setidaknya aku mencoba.”

Namun, yang mengejutkan Hana adalah ketika Raffa menawarkan potongan kecil dari kue gosongnya padanya.

“Coba ini, siapa tahu enak,” katanya sambil menyodorkan sendok kecil.

Hana mengerutkan dahi. “Kamu serius?”

“Kenapa nggak? Mungkin kelihatannya nggak bagus, tapi rasanya bisa aja mengejutkan.”

Setelah ragu beberapa detik, Hana akhirnya mencicipi sedikit.

“Hmmm…” Hana merenung. “Nggak terlalu buruk, sih. Tapi masih jauh dari enak.”

Raffa tertawa. “Berarti aku harus ikut kelas lagi. Barangkali kita bisa jadi partner?”

Hana melotot. “Tidak mungkin!”

Kejutan Manis di Akhir Kelas

Ketika kelas selesai, semua peserta diperbolehkan membawa pulang hasil karya mereka. Hana membawa molten cake-nya dengan bangga, sementara Raffa hanya membawa sekotak kecil adonannya yang gagal.

Namun, sebelum mereka berpisah, Raffa memanggil Hana.

“Eh, Mbak Hana,” katanya sambil menyerahkan sekotak kecil cokelat yang ia beli dari pengajar.

“Apa ini?” tanya Hana, bingung.

“Karena kamu nggak mungkin mau makan kue gosongku, ini gantinya. Anggap aja ucapan terima kasih karena udah nggak marah-marah selama kelas.”

Hana menatap kotak itu dengan ragu, tapi akhirnya menerimanya. “Terima kasih, aku rasa.”

Raffa tersenyum lebar. “Sama-sama. Sampai ketemu lagi di kelas berikutnya!”

Hana hanya mendengus, tapi dalam hati, ia merasa ada sesuatu yang sedikit berubah. Raffa memang menyebalkan, tapi kali ini, ia merasa bahwa mungkin ada sisi lain dari pria itu yang layak untuk dikenali.

Kamis, Juli 17, 2025

Novel: "Behind The Rain" Bab 4: Bukan Salah Siapa-siapa (Tapi Tetap Menyebalkan)


Bab 4: Bukan Salah Siapa-siapa (Tapi Tetap Menyebalkan)

Behind The Rain

Hari itu, apartemen Hana mendadak terasa seperti zona perang. Bukan karena ada musik keras dari unit sebelah, tapi karena air yang menggenang di dapurnya. Pipa wastafel yang biasanya bekerja tanpa masalah kini bocor parah, menyebabkan air meluber ke lantai.

“Ya ampun, kenapa harus sekarang?” gerutu Hana sambil mencoba menyumpal kebocoran itu dengan handuk. Tapi sia-sia, air tetap mengalir deras.

Tanpa pilihan lain, Hana memutuskan untuk memanggil teknisi apartemen. Setelah beberapa panggilan, akhirnya seorang petugas datang. Namun, begitu melihat kondisi pipa yang bocor, petugas itu langsung menggelengkan kepala.

“Ini butuh penggantian total, Mbak. Tapi stok pipa baru kosong. Mungkin baru bisa diperbaiki besok.”

“Besok? Tapi aku butuh wastafel ini sekarang!”

Petugas hanya tersenyum meminta maaf sebelum pergi. Hana duduk di lantai dapur dengan putus asa, menatap genangan air yang semakin meluas.

Saat itulah suara ketukan terdengar di pintunya. Dengan malas, Hana bangkit dan membuka pintu. Dan, seperti sudah diduga, Raffa berdiri di sana dengan senyum sok santainya.

“Aku dengar ada masalah pipa bocor?” tanya Raffa sambil melirik ke dalam apartemen Hana.

“Dari mana kamu tahu?”

“Petugas tadi lewat depan pintuku. Dia cerita sedikit. Jadi, apa kamu butuh bantuan?”

Hana menatapnya penuh curiga. “Bantuan apa?”

Raffa menyandarkan diri di kusen pintu. “Aku lumayan ahli soal perbaikan kecil. Kalau kamu mau, aku bisa coba lihat.”

Hana ragu. Di satu sisi, ia tidak ingin berutang budi pada Raffa. Tapi di sisi lain, apartemennya sudah berubah jadi kolam renang mini.

“Baiklah,” jawabnya akhirnya. “Tapi jangan harap aku akan berterima kasih berlebihan.”

“Tenang aja. Aku bantu bukan buat itu,” kata Raffa dengan senyum misterius.

Misi Perbaikan

Raffa masuk ke dapur Hana dan mulai memeriksa pipa. Ia melepas hoodie-nya, menyisakan kaos oblong hitam yang membuat lengan berototnya terlihat jelas. Hana berusaha untuk tidak terlalu memperhatikan, tapi sulit mengabaikan bahwa tetangganya ini ternyata cukup… menarik, kalau tidak menyebalkan.

“Ini masalahnya di sini,” kata Raffa sambil menunjuk sambungan pipa yang bocor. “Ada karet penutup yang longgar. Aku bisa coba kencangkan sementara.”

Dengan sigap, Raffa membuka tas kecil yang ternyata berisi alat-alat seperti tang, obeng, dan gulungan isolasi pipa. Hana hanya bisa berdiri di belakangnya, merasa sedikit canggung.

“Kamu selalu bawa alat-alat ini?” tanya Hana akhirnya, mencoba memecah keheningan.

“Selalu,” jawab Raffa tanpa menoleh. “Kamu nggak tahu kapan butuh memperbaiki sesuatu.”

“Aku nggak tahu kamu tipe yang praktis,” gumam Hana pelan.

Raffa terkekeh. “Ada banyak hal yang kamu nggak tahu soal aku, Mbak Hana.”

Hana mendengus pelan. “Dan aku nggak tertarik tahu.”

Raffa tidak menjawab, hanya fokus pada pekerjaannya. Setelah beberapa menit, ia berdiri dan membersihkan tangannya dengan lap.

“Sudah selesai. Bocornya harusnya berhenti sekarang.”

Hana mendekat untuk memeriksa. Air memang tidak lagi mengalir, dan lantai dapurnya perlahan mengering.

“Terima kasih,” katanya akhirnya, meskipun terasa berat di lidah.

Raffa tersenyum lebar. “Nggak usah sungkan. Kalau ada apa-apa lagi, tinggal panggil aku.”

“Aku harap nggak akan ada lagi,” balas Hana sambil mengantar Raffa keluar.

Namun, sebelum pria itu pergi, ia berhenti sejenak di ambang pintu.

“Ngomong-ngomong, aku ada saran.”

“Apa lagi sekarang?”

“Besok, kalau pipa ini masih bocor lagi sebelum petugas datang, aku sedia ember di apartemen. Kamu tahu harus cari aku, kan?”

Hana menutup pintu dengan keras, mendengar tawa kecil Raffa di lorong.

Keanehan yang Baru

Malam harinya, Hana mencoba untuk melupakan kejadian hari itu. Tapi otaknya terus memutar ulang percakapan dengan Raffa. Ada sesuatu yang mengganggu, entah kenapa ia tidak bisa menghapus bayangan senyuman pria itu dari pikirannya.

“Kenapa aku malah mikirin dia?” gumamnya sambil menepuk kepala sendiri.

Namun, pikirannya kembali ke realitas ketika sebuah pesan masuk ke ponselnya. Pesan itu dari Raffa.

Raffa: “Wastafel aman, kan? Kalau ada apa-apa, jangan sungkan.”

Hana mengetik balasan cepat: “Aman. Jangan ganggu aku.”

Tapi beberapa saat setelah mengirimnya, Hana merasa sedikit bersalah.

Raffa: “Siap, Mbak Hana yang galak. Selamat malam :)”

Hana mendengus, lalu meletakkan ponselnya di meja. Tapi di balik kekesalannya, ada sedikit senyum kecil yang tidak bisa ia tahan.

Sebuah Pertanyaan Baru

Di tempat tidurnya, Hana merenung. Apa mungkin Raffa tidak seburuk yang ia pikirkan? Pria itu memang menyebalkan, tapi ada sisi lain yang, kalau dipikir-pikir, cukup menenangkan.

Namun, sebelum pikirannya melayang lebih jauh, Hana segera menyelimuti dirinya dan memaksa dirinya untuk tidur.

“Dia tetap tetangga paling menyebalkan,” gumamnya, meskipun dalam hati ia tahu, perasaannya mulai berubah.

Senin, Maret 10, 2025

Novel: "Behind The Rain" Baba 3 Misi Damai Gagal Total

Bab 3: Misi Damai Gagal Total

Misi damai gagal total

Hari Senin pagi, Hana tiba-tiba mendapat pesan di grup penghuni apartemen. Pesan itu dikirim oleh pengelola, yang memberi tahu bahwa ada keluhan dari beberapa penghuni mengenai konflik antar tetangga. Sebagai respons, pengelola apartemen memutuskan untuk mengadakan sesi mediasi bagi penghuni yang bermasalah.

Dan siapa nama pertama yang disebutkan di daftar undangan?

Hana dan Raffa.

“Ya Allah, ini pasti gara-gara dia!” Hana membuang ponselnya ke sofa.

Seolah semesta mengerti kemarahannya, beberapa saat kemudian, Hana mendengar ketukan di pintunya. Ia membukanya dengan setengah hati, hanya untuk menemukan Raffa berdiri di sana dengan ekspresi malas.

“Kamu dapat undangan dari pengelola?” tanya Raffa sambil menyandarkan tubuhnya di kusen pintu.

“Ya, jelas. Kamu pikir siapa yang bikin aku ada di situasi ini?” balas Hana ketus.

Raffa tersenyum kecil. “Aku juga nggak senang, tahu. Tapi kita harus datang. Kalau nggak, denda seratus ribu per orang.”

Hana mendengus. “Aku nggak mau bayar denda. Jadi, aku akan datang. Dan aku akan bilang ke pengelola bahwa semua ini salah kamu.”

“Silakan saja. Aku juga bisa bilang hal yang sama soal kamu.”

Hana hanya memutar bola matanya sebelum menutup pintu dengan keras.

Di Ruang Mediasi

Sesi mediasi itu diadakan di ruangan kecil dekat lobi apartemen. Ada seorang staf pengelola yang bertugas sebagai mediator, seorang wanita muda bernama Fira, yang tampak ramah tapi tegas.

Hana datang lebih dulu, membawa notebook dan pena. Ia sudah siap mencatat semua argumennya untuk melawan Raffa. Tak lama, Raffa muncul dengan tangan kosong, mengenakan kaos hitam dan celana jeans santai.

“Selamat pagi, Mbak Hana. Senang sekali bertemu lagi,” sapa Raffa sambil duduk.

Hana hanya meliriknya sekilas.

Fira tersenyum lebar. “Oke, mari kita mulai. Saya dengar kalian berdua punya beberapa masalah sebagai tetangga?”

“Beberapa?” Hana tertawa sarkastik. “Mungkin lebih tepatnya banyak.”

Raffa mengangguk setuju. “Dia benar. Masalah itu datang dari dia.”

Hana langsung menoleh dengan tatapan tajam. “Masalah? Masalah apa? Justru kamu yang selalu bikin keributan!”

Raffa mengangkat bahu. “Aku nggak tahu apa yang kamu maksud. Aku cuma hidup seperti biasa.”

“Seperti biasa? Parkir sembarangan, musik keras, buang kardus di lorong, itu menurutmu biasa?”

Fira mengangkat tangan untuk menghentikan perdebatan. “Tenang, tenang. Kita di sini untuk menyelesaikan masalah, bukan menambahnya.”

Raffa bersandar di kursinya, tampak lebih santai. “Oke, Mbak Fira. Menurut saya, Mbak Hana ini terlalu sensitif. Dia harus belajar lebih santai. Hidup kan nggak harus selalu serius.”

Hana menghela napas panjang, mencoba menahan diri. “Ini bukan soal sensitif atau nggak. Ini soal aturan dan sopan santun.”

Fira mencatat sesuatu di buku catatannya sebelum bertanya, “Baiklah, apakah ada solusi yang kalian pikir bisa membantu?”

Hana langsung menjawab, “Dia harus berhenti mengganggu ketenangan orang lain. Itu saja.”

Raffa tersenyum tipis. “Dan aku cuma mau dia berhenti terlalu banyak mengeluh. Aku rasa itu adil.”

Fira terdiam sejenak, lalu menatap keduanya. “Bagaimana kalau kita buat kesepakatan sederhana? Misalnya, Raffa setuju untuk tidak memutar musik keras setelah jam 9 malam, dan Hana setuju untuk tidak terlalu reaktif terhadap hal-hal kecil.”

Hana memutar matanya. “Hal kecil? Ini soal prinsip.”

Raffa mengangkat tangan. “Aku setuju, deh, soal musik itu. Tapi aku nggak janji soal hal-hal lain. Aku orangnya spontan.”

Fira tersenyum lelah. “Baiklah. Kita mulai dari itu dulu. Kalau ada masalah lagi, kalian bisa lapor ke saya. Setuju?”

Hana mengangguk setengah hati. Raffa hanya tersenyum sambil berkata, “Setuju.”

Setelah Mediasi

Keluar dari ruangan mediasi, Hana merasa tidak puas. Ia yakin Raffa tidak akan benar-benar mematuhi kesepakatan itu.

“Lihat aja nanti,” gumamnya sambil berjalan ke arah lift.

Namun, saat ia masuk lift, Raffa menyusul dan berdiri di sebelahnya. Mereka terjebak dalam keheningan canggung.

“Kamu nggak suka, ya, sama aku?” tanya Raffa tiba-tiba.

Hana menoleh dengan ekspresi bingung. “Pertanyaan macam apa itu?”

“Aku cuma penasaran. Kamu kayaknya selalu marah-marah tiap ketemu aku.”

Hana mendengus. “Kalau kamu tahu jawabannya, kenapa masih nanya?”

Raffa tertawa kecil. “Aku cuma pengen tahu aja. Siapa tahu suatu hari nanti kamu berubah pikiran.”

Hana memutar matanya. “Nggak akan terjadi.”

Namun, jauh di lubuk hatinya, Hana merasa ada sesuatu yang aneh. Meskipun Raffa sering membuatnya kesal, ada bagian kecil dari dirinya yang mulai memperhatikan senyum santai pria itu.

Minggu, Maret 09, 2025

Novel "Behind The Rain" Bab 2 Tetangga Paling Menyebalkan

 Bab 2: Tetangga Paling Menyebalkan

Bab 2: Tetangga Paling Menyebalkan


Pagi itu, Hana bangun dengan perasaan setengah lega. Setidaknya, malam ini ia berhasil tidur tanpa terganggu oleh dentuman bass dari apartemen sebelah. Tapi, perasaan lega itu tidak bertahan lama.

Begitu keluar untuk membuang sampah ke lorong, ia menemukan kejutan baru: sebuah tumpukan kardus bekas yang menutupi hampir seluruh akses lorong. Tepat di depan pintu apartemen Raffa.

“Astaghfirullah.., dia ini nggak pernah belajar, ya?” Hana menggerutu sambil mencoba melewati tumpukan itu dengan hati-hati. Tapi saat dia melangkah, salah satu kardus justru jatuh dan hampir membuatnya tersandung.

Dengan kesal, Hana mengetuk pintu apartemen Raffa.

Ketukan pertama tak ada jawaban. Ketukan kedua, masih sepi. Akhirnya, dia mengetuk lebih keras. Tidak sampai lima detik kemudian, pintu terbuka. Raffa muncul dengan rambut acak-acakan, mengenakan kaos lusuh dan celana pendek.

“Apa lagi sekarang, Mbak Hana?” tanya Raffa dengan nada malas.

“Ini apa, Mas?” Hana menunjuk tumpukan kardus di depannya.

“Oh, itu. Barang-barang pindahan. Kenapa?”

“Kenapa?” Hana mengulangi dengan nada tinggi. “Ini bikin lorong kayak gudang. Gimana kalau ada orang yang lewat atau—”

“Aku kan baru pindah, wajar kalau ada barang-barang,” potong Raffa santai.

“Tapi ini lorong umum, bukan tempat penyimpanan barangmu!”

Raffa menggaruk kepala, tampak seperti orang yang tidak peduli. “Oke, oke. Nanti aku rapikan. Santai aja, Mbak.”

“Santai? Kalau aku jatuh gara-gara ini, kamu tanggung jawab?”

Raffa terkekeh kecil. “Kalau kamu jatuh, nanti aku angkat. Tenang aja.”

Mendengar itu, Hana merasa darahnya mendidih. “Tolong pindahkan sekarang!”

Raffa mendesah, lalu dengan enggan mulai mengangkat kardus-kardus itu satu per satu. Sementara itu, Hana berdiri dengan tangan terlipat di dada, memperhatikan dengan saksama seperti seorang supervisor yang sedang memarahi karyawan.

“Sudah puas, Mbak Hana?” tanya Raffa setelah selesai, dengan nada sedikit mengejek.

“Belum. Jangan bikin masalah lagi, ya.”

Raffa tertawa kecil. “Kalau aku nggak bikin masalah, kayaknya kamu bakal kehilangan hiburan, deh.”

Hana hanya mendengus sebelum berbalik dan masuk ke apartemennya. Ia benar-benar tidak habis pikir bagaimana ia bisa mendapatkan tetangga seperti Raffa.

Hari-hari Penuh Kekacauan

Malam harinya, Hana baru saja selesai mandi ketika suara musik keras dari apartemen sebelah kembali terdengar. Kali ini, bukan musik EDM, melainkan lagu-lagu dangdut remix yang entah dari mana Raffa mendapatkannya.

“Ya ampun! Kenapa setiap malam harus begini?” gerutunya sambil menutup telinga dengan bantal.

Namun, saat dia hendak mengetuk dinding lagi, sebuah ide muncul di kepalanya. Jika Raffa bisa mengganggunya, kenapa dia tidak membalas?

Hana segera membuka laptopnya dan mencari video dengan suara bayi menangis. Ia memutar video itu dengan volume penuh dan menempelkan speaker laptopnya ke dinding.

Hanya dalam hitungan menit, musik dangdut itu berhenti. Lalu, suara ketukan keras terdengar di pintu apartemennya.

Hana tersenyum penuh kemenangan sebelum membuka pintu. Di sana, berdiri Raffa dengan ekspresi bingung.

“Kenapa ada suara bayi menangis?” tanya Raffa tanpa basa-basi.

“Oh, itu. Aku cuma pengen hiburan aja,” jawab Hana santai, menirukan gaya bicara Raffa sebelumnya.

Raffa mengerutkan kening. “Hiburan?”

“Iya. Kamu kan sering bilang, hidup ini harus santai. Jadi, aku santai aja.”

Raffa mendengus pelan, lalu tiba-tiba tersenyum. “Kamu sengaja, ya?”

Hana mengangkat bahu dengan wajah polos. “Aku nggak tahu kamu ngomong apa.”

Raffa menatapnya sejenak, lalu tertawa kecil. “Oke, Mbak Hana. Kalau itu caramu membalas, aku terima tantangan ini.”

Hana menutup pintu dengan cepat, merasa cemas. Apa dia serius?

Tantangan Dimulai

Keesokan harinya, Hana menemukan sesuatu yang aneh di depan pintunya. Sebuah balon besar berbentuk hati dengan tulisan: “Jangan marah-marah terus, ya. Santai aja :)”

Ia memandang balon itu dengan bingung, lalu bergegas ke apartemen Raffa. Pintu langsung terbuka sebelum Hana sempat mengetuk.

“Kamu sengaja taruh ini, ya?” tanya Hana sambil mengangkat balon itu.

Raffa hanya tersenyum lebar. “Kamu kan butuh hiburan. Aku bantu.”

“Apa maksudmu?”

“Maksudku, hidup ini lebih indah kalau ada sedikit humor. Kamu terlalu serius, Mbak Hana.”

Hana memutar matanya, merasa percuma berdebat dengan pria itu. Tapi dalam hati, ia tidak bisa menahan diri untuk tersenyum kecil.

Sabtu, Maret 08, 2025

Novel "Behind The Rain" Bab 1 Perkenalan Penuh Emosi

Sinopsis

Hana, dia seorang Wanita yang bekerja disebuah kantor pemasaran, kehidupnya mulai berubah ketika ia terlibat dalam serangkaian peristiwa konyol dengan Raffa, tetangga barunya yang sombong tetapi menawan. Dimulai dari berbagai perselisihan kecil di antara mereka yang perlahan berkembang menjadi romansa tak terduga, dengan berbagai momen kocak, menyentuh, dan penuh kejutan.
"Behind The Rain"

Bab 1: Perkenalan Penuh Emosi

Hana melangkah keluar dari lift dengan ekspresi lelah. Kantong belanja di tangannya hampir robek karena terlalu penuh, dan tubuhnya terasa lemas setelah bekerja seharian di kantor. Di dalam pikirannya, ia hanya terlintas satu hal: berbaring di sofa sambil menonton serial drama korea favoritnya, ditemani segelas coklat hangat.

Namun, semua rencana yang melintas dipikirannya langsung buyar begitu ia melihat pemandangan di depan parkiran apartemennya.

Sebuah mobil SUV hitam besar terparkir dengan posisi menyerong, menutup hampir seluruh akses ke parkiran pribadinya. Hana menghentikan langkah, menarik napas panjang, dan memejamkan mata sejenak.

“Tenang, Han Tenang. Jangan marah-marah dulu. Mungkin ini cuma salah paham,” gumamnya pada diri sendiri.

Namun, rasa tenangnya langsung menguap begitu melihat ada tanda “Penghuni Tetap” di kaca mobil itu. Dengan cepat, ia menghampiri mobil tersebut dan mengetuk jendelanya. Tidak ada respons. Ia mengetuk lagi, kali ini lebih keras. Tetap tidak ada jawaban.

“Astaghfirullah, siapa sih yang parkir sembarangan gini?” gerutunya sambil melihat ke sekeliling. Area parkiran itu sunyi.

Saat hana masih berdiri dengan ekspresi sebal, suara langkah kaki terdengar dari arah lorong. Seorang pria muncul dari pintu apartemen sebelah, mengenakan hoodie abu-abu dan celana pendek, membawa kantong plastik kecil berisi snack.

Pria itu terlihat santai, bahkan terlalu santai untuk situasi ini. Wajahnya lumayan tampan, dengan rahang tegas dan alis tebal yang menambah kesan percaya diri. Namun, bagi Hana, aura pria itu hanya mempertegas bahwa dia adalah manusia yang menyebalkan.

“Eh, mobil ini punya kamu?” tanya Hana dengan nada tegas, sambil menunjuk SUV hitam itu.

Pria itu berhenti sejenak, lalu mengangguk. “Iya, kenapa?”

Hana ternganga. “Haaahh… Kenapa? Karena kamu parkir sembarangan, itu kenapa! Aku bahkan nggak bisa masuk ke parkiranku sendiri. Ini parkiran penghuni, tahu?”

Pria itu mengangkat alis, seolah tak terpengaruh dengan nada tinggi Hana. “Oh, maaf. Aku cuma sebentar kok. Lagi nunggu kiriman.”

“Sebentar atau lama, itu tetap nggak sopan!” Hana mulai kehilangan kesabaran.

Pria itu menghela napas panjang, lalu dengan santai berkata, “Baiklah, aku pindahkan. Tapi santai saja ya mba ya, nggak usah marah-marah gitu. Hidup ini nggak perlu setegang itu ko.”

Kalimat itu sukses membuat darah Hana mendidih. Namun, ia menahan diri untuk tidak membalas. Pria itu masuk ke mobilnya, memundurkannya ke posisi yang benar, lalu keluar lagi. Sebelum kembali ke apartemennya, dia sempat menoleh ke arah Hana.

“Selesai, ya Mbak. Sudahkan sekarang sudah tidak terhalang lagi, sudah puaskan?” ujarnya sambil tersenyum tipis.

Hana mendengus. “Ini bukan soal puas atau nggak ya mas ya. Ini soal sopan santun.”

Pria itu hanya mengangkat bahu sebelum masuk ke apartemennya dan menutup pintu dengan santai. Hana berdiri terpaku di tempatnya, dan masih merasa sangat kesal dengan pria arogan itu.

“Dasar manusia menyebalkan,” gumamnya sambil membawa kantong belanja masuk ke apartemennya.

Apartemen Hana

Setelah meletakkan kantong belanja di dapur, Hana menjatuhkan diri ke sofa. Ia mencoba melupakan kejadian tadi dan fokus pada serial drama favoritnya. Namun, ketenangan itu tidak bertahan lama.

Dari dinding sebelah, terdengar suara musik dengan dentuman bass yang keras. Hana langsung menegakkan tubuhnya. Lagu EDM mengguncang ruangan, membuat suasana yang tadinya tenang berubah menjadi bising.

“aarrrggghhhh…. Dia muter musik kencang gitu malam-malam?” Hana menutup kedua telinganya dengan bantal di sofa.

Dia mencoba menenangkan diri dengan menyumpal telinga menggunakan earphone, tapi dentuman itu terlalu kuat untuk diabaikan. Akhirnya, dia berdiri dan mengetuk dinding dengan keras.

“Hey! Bisa kecilin musiknya nggak?” teriak Hana.

Tidak ada respons. Musik itu tetap berdentum seperti pesta tengah malam. Hana meraih ponselnya, mengetik pesan ke grup penghuni apartemen.

Hana: “Tetangga di unit 304 bisa nggak pelan-pelan sedikit? Ini sudah lewat jam 9 malam!”

Tak lama, sebuah pesan masuk.

Penghuni 304: “Santai aja, Mbak. Aku lagi butuh hiburan. Kalau keberisikan, pakai earplug aja.”

Hana hampir melempar ponselnya. Dia mendengus keras, lalu menulis balasan:

Hana: “Pakailah sopan santun, Mas. Ini bukan studio musik, ini apartemen!”

Namun, pesan itu tidak direspons lagi. Musik tetap berdentum keras, membuat Hana merasa frustasi.

Keesokan Harinya

Keesokan pagi, Hana berjalan ke arah lift sambil membawa laptop dan tas kerja. Di depan lift, dia bertemu pria dari unit 304 itu lagi. Kali ini, pria itu terlihat lebih rapi dengan kemeja putih dan celana bahan hitam.

“Pagi,” sapa pria itu dengan senyuman yang menurut Hana lebih seperti ejekan.

Hana hanya mendengus, tidak ingin memulai percakapan.

Lift terbuka, dan mereka berdua masuk. Dalam keheningan yang canggung, pria itu tiba-tiba berkata, “Oh ya, soal tadi malam, maaf ya kalau terlalu berisik. Aku nggak sadar sudah larut malam.”

Hana menoleh dengan ekspresi skeptis. “Benarkah? Kamu kayaknya sadar banget, deh.”

Pria itu terkekeh. “Aku Raffa, by the way. Tetangga barumu.”

Hana hanya mengangguk dingin. “Hana.”

Raffa mengangguk dengan senyum lebar. “Nice to meet you, Mbak Hana yang suka tegang.”

Hana memutar mata, memilih diam sampai lift tiba di lantai dasar. Dalam hati, dia berharap tidak perlu berurusan lagi dengan pria menyebalkan itu. Tapi, entah kenapa, firasatnya berkata bahwa hidupnya baru saja menjadi sedikit lebih rumit.

Selasa, November 15, 2022

CERPEN FIKSI CINTA DIATAS PESAWAT KERTAS JILID II

CINTA DIATAS PESAWAT KERTAS

JILID II

CINTA DIATAS PESAWAT KERTAS


Tak terasa sudah hampir setengah jam alif duduk dan termenung sambil memegang pesawat kertas yang telah mengenai kepalanya tadi. Hari sudah mulai gelap, alif merasakan tubuhnya sangat lelah setelah seharian bekerja duduk manis sambil menatap layar monitor PC kantornya. Setelah menyelesaikan kuliahnya Alif yang memang dikenal pintar, dan aktif dikampus mendapat penawaran kerja dari berbagai perusahaan, namun ia memilih sebuah perusahaan yang bergerak dibidang social entrepreneurship. Menurutnya dengan bekerja disebuah perusahaan sosial maka bukan hanya keberkahan di Dunia yang ia dapat akan tapi juga keberkahan di akhirat kelak. Alif tidak asal dalam menentukan pilihan, karena ia sudah terbiasa melakukan istikharah setiap mengambil keputusan. Dalam hal apapun, ia selalu berusaha melibatkan Allah SWT dalam setiap tindakannya dan urusannya. Itu jualah yang membuat alif selalu berkata sopan, jujur dan menghargai orang lain tanpa terkecuali. Sifatnya itu membuat Alif dikagumi banyak orang, bahkan tidak sedikit tawaran dari orang tua untuk menjadikannya menantu idaman. Tapi Alif selalu menjawabnya dengan senyuman, saat ini memang alif belum siap untuk membangun mahligai rumah tangga. Hatinya belum menemukan perasaan yang sama seperti yang ia rasakan seperti lima tahun lalu.

Sambil meregangkan ototnya alif mulai bangun dari tempat duduknya. Ia mematahkan lehernya kekiri dan kekanan. Sebelum mulai berjalan pandangannya kembali ke pesawat kertas yang sedari tadi berada digenggamannya, ternyata perasaan itu masih sama, sudah sekian lama alif berusaha menghapus nama Ayunda dari hatinya, tetapi pesawat kertas itu merusaknya. Ia kembali mengingat cinta pertamanya sehingga perasaan cinta yang dulu pernah tertanam perlahan mulai bersemi kembali. “Astaghfirullah, kenapa perasaan ini tidak mau pergi, sudah lima tahun aku mencoba menghilangkannya, tapi tetap saja masih tersisa, dan bahkan rindunya semakin besar”. Alif  bergumam sendirian sambil menghela nafasnya. Hatinya mulai merasakan rindu, ada keinginan yang teramat sangat untuk berjumpa, bertatap mata dan melihat senyumnya. Ya, memang sudah hampir lima tahun semenjak lulus dari SMA, alif sudah tidak lagi melihat sosok ayunda, alif yang memang sejak pertama bertemu dengan ayunda belum pernah sedikitpun melihat wajahnya dan hanya bertegur sapa dengan bahasa isyarat. akan tetapi, sorotan mata Ayunda yang tajam, itu saja sudah cukup membuat alif terkesima dan dimabuk kepayang pada pandangan pertama, yang akhirnya menyisakan rasa yang sulit ia ubah sampai saat ini. Hari semakin sore dan alif pun bergegas pulang dengan mengendarai sepeda motornya.

Beda hal dengan Alif, Semenjak lulus sekolah  Ayunda yang memang terkenal pintar mendapatkan kesempatan untuk bersekolah keluar negeri. Ia mendapat bea siswa untuk melanjutkan pendidikannya di sebuah perguruan tinggi di luar negeri. Sebenarnya orang tua Ayunda agak keberatan dan lebih mengharapkan ia untuk melanjutkan sekolah didalam negeri saja, semua bukan tanpa alasan, semua itu agar mereka bisa lebih memperhatikan dan menjaga Anaknya, apalagi dia seorang perempuan dan merupakan anak semata wayang. Tapi itulah Ayunda, gadis cantik, pintar dan selalu bersemangat. Yang pada akhirnya ia mampu meyakinkan kedua orang tuanya dan restupun ia dapat untuk bisa menuntut ilmu di luar negeri. Dan benar saja selama berkuliah disana  ia mampu membuktikan dengan banyaknya prestasi yang ia dapatkan dan bukan hanya itu sudah hampir empat tahun ayunda hidup sendiri disana, dan hanya bisa berkomunikasi lewat handphone, tetapi ia mampu menjawab kekhawatiran kedua orang tuanya, ayunda tidak berubah sedikitpun. rasa sayang dan sopan santunya kepada orang tua dan keluarga semakin bertambah. Ia juga menjaga kepercayaan kedua orang tuanya dengan baik yaitu dengan menjaga kehormatannya ia tetap sebagai Ayunda si gadis bercadar.

Ayunda memang gadis yang memiliki kecantikan yang luar biasa, bukan karena parasnya akan tetapi karena hatinya. Kecantikannya terpancar dari akhlaknya sebagai seorang wanita sholeha. Walaupun belum ada yang melihat wajahnya tanpa menggunakan niqob kecuali teman sekamarnya., tapi banyak sekali laki-laki yang tergoda olehnya. Godaan demi godaan laki-laki baik secara langsung atau lewat sepucuk surat, berdatangan silih berganti. Tapi ayunda memiliki komitmen yang kuat “ bahwa kedatangannya kesana adalah untuk belajar, belajar untuk menggapai masa depan yang ia impikan”. Sehingga sebesar dan sekuat apapun godaan laki-laki seakan-akan tidak mampu menembus dinding hatinya. Namun begitu, ia selalu berhati-hati untuk tidak menyakiti siapapun yang berusaha mendekatinya.

Ayunda memiliki mimpi yang sangat besar, ia ingin menjadi seorang dosen dan penulis buku.  Menurutnya dengan menulis ia dapat membagikan pengalaman hidupnya dengan harapan dapat memberikan memotivasi untuk banyak orang, keinginan itulah yang akhirnya menjadi motivasi tersendiri didalam kehidupannya, seakan akan ia tulis mimpi-mimpinya itu diselembar kertas dan ia tancapkan dikepalanya. Saat ini ayunda berada disemester akhir, dan sedang bersiap untuk menyusun tugas akhir sebagai syarat bahwa ia telah menyelesaikan pendidikannya.

Di negeri jiran ayunda tidak sendirian ia bertemu dengan seorang teman dari Indonesia namanya  “Fatimah”. Mereka sangat akrab dan tidak terpisahkan semenjak berkenalan. Ayunda adalah sosok yang mudah bergaul sehingga ia juga banyak memiliki teman, tapi Fatimah adalah teman yang paling dekat, mereka seperti saudara sendiri. Mereka tinggal dalam satu kamar, mereka sering berbagi cerita tentang semasa sekolah dulu. Walaupun mereka berasal daerah yang berbeda tapi mereka seperti adik dan kakak. Ayunda memiliki sifat menjaga sedangkan Fatimah sangat manja. Ayunda seperti kakak bagi Fatimah apapun yang terjadi pada dirinya pasti ia certikakan kepada ayunda.

“Yu, ada titipan nih dari ka faiz”.

Fatimah memberikan sebuah amplop putih, yang mereka sendiri tidak tahu apa isinya.

“ini apa fat?”

“aku gak tahu, tadi pas aku jalan tiba-tiba saja ka faiz memanggil ku, dan ia memberikan amplop itu kepadaku”, dia bilang titip untuk kamu”. coba saja kamu buka??

“apa ya? Tanya ayunda sambil menyobek amplop itu.

Ternyata isinya adalah sepucuk surat, surat dengan goresan tinta emas dan berisi beberapa kalimat tentang perasaan faiz ke ayunda.

“ciieee… ciiiiee… lagi-lagi dapet surat cinta ya? Mmm… kapan ya aku bisa dapet surat cinta kaya kamu yu?”. Pengen deeeh rasanya. Fatimah menggoda ayunda.

“kamu mau fat, ya sudah, ini buat kamu saja”. Jawab ayunda

“eeehh yu… ini kan buat kamu ko dikasih aku siih”.

“aku bacain ya?”.

“terserah kamu aja fat”. Jawab ayunda sambil menyusun tulisannya dilaptop, seakan-akan tidak peduli dengan isi surat itu. Dan fatimahpun mulai membacakan isi suratnya

“dear de Lubna Ayunda Putri, maaf aku lancang menulis surat ini, karena aku bingung, sejak pertama kita berkenalan, entah mengapa seperti ada yang salah didalam hatiku. Aku merasa ada ruang kosong didalam hatiku, aku merasakan kehampaan yang luar biasa. Hatiku tidak pernah tenang terus memikirkanmu. Sepertinya aku jatuh cinta,ya, aku jatuh cinta saat kamu menyebutkan namamu pertama kali. Keramahan sikapmu, kelembutanmu saat bertutur kata seakan-akan menyihirku, hatiku berdesir, jantungku berdetak kencang. Dan hidupku mulai tak tenang. Itulah sebabnya aku coba memberanikan diri untuk menulis surat ini. De ayunda selepas aku menyelesaikan kuliah aku berjanji, insyaAllah aku akan kerumah mu dan menemui kedua orang tua mu.” Faiz Hafifurahman

Mendengar isi surat itu ayunda kaget, dan mengambil surat tersebut dari tangan Fatimah.

“Astghfirullah.. Aku harus bagaimana ini fat?. “aku belum ada niat untuk menikah, aku masih punya cita-cita yang harus aku gapai, dan aku sudah berjanji pada diriku sendiri aku ingin menggapai cita-cita ku terlebih dahulu sebelum akhirnya aku menjadi seorang istri, kamu tahu itu kan fat”. Aku juga masih ingin melanjutkan sekolah hingga S2. Ayunda merasa takut dan kebingungan bagaimana jika ternyata Faiz benar-benar kerumahnya dan menemui keluarganya selepas lulus kuliah nanti.

“kamu ini lucu si yu, ka faiz itu kan ganteng, baik, dan kelihatannya sholeh, aku saja mau jika ia ajak duduk di pelaminan. Heee… “.

”aku serius fat” jawab ayunda dengan agak kesal.

“hee… maaf yu… lagi pula jika iya benar-benar membuktikan omongannya dia pasti akan mendukung segala niatmu yu”. Fatimah mencoba untuk menenangkan.

“pokoknya aku belum siap menikah fat”.

Dan Akhirnya ayundapun bercerita jika sewaktu masih sekolah ia  pernah jatuh hati kepada kaka kelasnya. Tapi ia pendam dengan sendirinya. Lelaki yang dia sendiri tidak tau siapa namanya namun hatinya selalu menilai ia adalah lelaki yang baik. Yang membuatnya jatuh hati adalah ia selalu menjaga pandangan saat bertemu wanita dan pernah suatu ketika ia mendengar lelaki itu dengan faseh dan merdu melantunkan ayat suci Al-qur’an. Sejak saat itu entah mengapa Ayunda selalu merasa sesak, seperti ada yang salah didalam hatinya. Dia juga lah yang membuat ayunda memutuskan untuk kuliah keluar negeri. Karena menurutnya berada disana hanyalah menimbulkan luka. Sosoknya terus membayangi, dan tak jarang membuatnya suka menangis sendirian.

“memendam perasaan itu tidak enak fat,” dan sampai saat ini aku masih berharap jika aku menikah nanti laki-laki itulah orangnya bukan yang lain”. Ayunda bercerita dipelukan Fatimah.

“wah wah wah … kamu bener-bener lucu ya yu.. jatuh cinta pada laki-laki yang kamu sendiri tidak tau namanya”, bagaimana bisa menjadi calon suami yu…

“perasaanmu boleh saja jatuh ke lelaki itu yu, tapi jodohkan Gusti Allah yang mengatur”.

“iya fat kamu benar, tp yang pasti aku belum siap untuk menikah, semoga kata-kata ka Faiz disurat itu tidak benar.

Malam semakin larut sepucuk surat dari faiz dibiarkan tergeletak diatas tempat tidur ayunda, Fatimah tidur dengan lelap, beda hal dengan Ayunda ia Nampak gelisah dan tidak bisa tidur, ia masih memikirkan bagaimana jika faiz benar-benar datang kerumahnya nanti, dan bagaimana jika kedua orang tua Ayunda menerima lamaran tersebut. Ayunda gelisah hingga akhirnya ia putuskan untuk mengambil wudhu dan sholat dua rakaat. Ia memohon ketenangan kepada yang maha memberi ketenangan. Tanpa sadar Ayunda pun akhirnya tertidur di hamparan sajadah.

Keesokan hari nya ayunda berpapasan dengan faiz akan tetapi ayunda hanya menunduk dan sedikitpun tidak menatap matanya. Sementara faiz yang sudah siap melempar senyum mendadak melipat mukanya. Hatinya terasa sesak dan menyimpulkan bahwa Ayunda sama sekali tidak menghiraukannya. Disaat itu juga Fatimah melewatinya.

“fat,.”

“oh iya ka, kenapa ka?” Fatimah menoleh menjawab sapaan faiz

“titipan ku sudah kamu sampaikan ke Ayunda?”

“ohh.. sudah ka semalam”

“sudah dibaca belum fat?”

“sepertinya sudah ka, emmm… tapi Fatimah ga tau juga si ka, soalnya Fatimah langsung tidur semalam.” Fatimah berpura pura tidak tahu karena takut akan semakin panjang pertanyaannya.

“oohh ya sudah terimakasih ya fat..”

“iya ka sama-sama” Fatimahpun langsung bergegas pergi.

Hati Faiz semakin terkoyak, mulai menarik nafas “kenapa ayunda tidak merespon surat dariku, apa dia tidak suka padaku”. Hatinya merasa sakit karena fikirannya sendiri yang menyimpulkan bahwa perasaannya hanya bertepuk sebelah tangan.

Saat ini faiz berada disemester akhir sama seperti ayunda dan skripsinya sebentar lagi akan selesai. Menjadi mahasiswa dinegeri orang itu bukan hal yang mudah tapi karena kemampuan finansial yang mendukung ditambah tuntutan kedua orang tua karena ia adalah pewaris tunggal perusahaannya membuat Faiz harus belajar sungguh-sungguh agar kedua orang tuanya tidak kecewa. Ia tinggal di apartemen yang mewah berbeda dengan Ayunda dan Fatimah yang hanya tinggal di asrama.

Faiz adalah anak seorang pengusaha besar, ayahnya memiliki perusahaan yang bergerak di bidang Sosial enterprenuership. Perusahaan yang menjadi tempat Alif bekerja saat ini. Dan ia juga termasuk pemuda yang cerdas dan berprestasi. Tidak sedikit wanita yang menyukainya, tapi entah mengapa Ayunda yang ia pilih padahal selama berkenalan dengannya, Faiz belum pernah melihat wajahnya, ia sangat yakin Ayunda adalah wanita idaman sesuai kriteria yang ia harapkan. Faiz tampak sangat stress ia masih bertanya-tanya prihal surat yang ia sampaikan mealui Fatimah. Karena dorongan perasaan yang begitu besar ditambah bayang-bayang takut jika tidak dapat memiliki Ayunda.  membuat Ia semakin yakin dengan keputusannya untuk melamar Ayunda setelah kuliahnya selesai nanti. Suka atau tidak suka Faiz tetap berencana untuk meminangnya setelah pulang ke Indonesia. Dan ia merasa yakin bahwa kedua orang tua Ayunda pasti akan menerimanya apalagi kedua orang tuanya merupakan keluarga terpandang sebagai pengusaha yang sukses.

Featured Post

Novel "Behind The Rain" Bab 6 : Undangan Tak Terduga

  Bab 6: Undangan Tak Terduga Hari itu, Hana baru saja selesai membereskan pekerjaannya saat sebuah pesan muncul di grup penghuni aparteme...