Tampilkan postingan dengan label FILM. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label FILM. Tampilkan semua postingan

Minggu, Maret 09, 2025

Novel "Behind The Rain" Bab 2 Tetangga Paling Menyebalkan

 Bab 2: Tetangga Paling Menyebalkan

Bab 2: Tetangga Paling Menyebalkan


Pagi itu, Hana bangun dengan perasaan setengah lega. Setidaknya, malam ini ia berhasil tidur tanpa terganggu oleh dentuman bass dari apartemen sebelah. Tapi, perasaan lega itu tidak bertahan lama.

Begitu keluar untuk membuang sampah ke lorong, ia menemukan kejutan baru: sebuah tumpukan kardus bekas yang menutupi hampir seluruh akses lorong. Tepat di depan pintu apartemen Raffa.

“Astaghfirullah.., dia ini nggak pernah belajar, ya?” Hana menggerutu sambil mencoba melewati tumpukan itu dengan hati-hati. Tapi saat dia melangkah, salah satu kardus justru jatuh dan hampir membuatnya tersandung.

Dengan kesal, Hana mengetuk pintu apartemen Raffa.

Ketukan pertama tak ada jawaban. Ketukan kedua, masih sepi. Akhirnya, dia mengetuk lebih keras. Tidak sampai lima detik kemudian, pintu terbuka. Raffa muncul dengan rambut acak-acakan, mengenakan kaos lusuh dan celana pendek.

“Apa lagi sekarang, Mbak Hana?” tanya Raffa dengan nada malas.

“Ini apa, Mas?” Hana menunjuk tumpukan kardus di depannya.

“Oh, itu. Barang-barang pindahan. Kenapa?”

“Kenapa?” Hana mengulangi dengan nada tinggi. “Ini bikin lorong kayak gudang. Gimana kalau ada orang yang lewat atau—”

“Aku kan baru pindah, wajar kalau ada barang-barang,” potong Raffa santai.

“Tapi ini lorong umum, bukan tempat penyimpanan barangmu!”

Raffa menggaruk kepala, tampak seperti orang yang tidak peduli. “Oke, oke. Nanti aku rapikan. Santai aja, Mbak.”

“Santai? Kalau aku jatuh gara-gara ini, kamu tanggung jawab?”

Raffa terkekeh kecil. “Kalau kamu jatuh, nanti aku angkat. Tenang aja.”

Mendengar itu, Hana merasa darahnya mendidih. “Tolong pindahkan sekarang!”

Raffa mendesah, lalu dengan enggan mulai mengangkat kardus-kardus itu satu per satu. Sementara itu, Hana berdiri dengan tangan terlipat di dada, memperhatikan dengan saksama seperti seorang supervisor yang sedang memarahi karyawan.

“Sudah puas, Mbak Hana?” tanya Raffa setelah selesai, dengan nada sedikit mengejek.

“Belum. Jangan bikin masalah lagi, ya.”

Raffa tertawa kecil. “Kalau aku nggak bikin masalah, kayaknya kamu bakal kehilangan hiburan, deh.”

Hana hanya mendengus sebelum berbalik dan masuk ke apartemennya. Ia benar-benar tidak habis pikir bagaimana ia bisa mendapatkan tetangga seperti Raffa.

Hari-hari Penuh Kekacauan

Malam harinya, Hana baru saja selesai mandi ketika suara musik keras dari apartemen sebelah kembali terdengar. Kali ini, bukan musik EDM, melainkan lagu-lagu dangdut remix yang entah dari mana Raffa mendapatkannya.

“Ya ampun! Kenapa setiap malam harus begini?” gerutunya sambil menutup telinga dengan bantal.

Namun, saat dia hendak mengetuk dinding lagi, sebuah ide muncul di kepalanya. Jika Raffa bisa mengganggunya, kenapa dia tidak membalas?

Hana segera membuka laptopnya dan mencari video dengan suara bayi menangis. Ia memutar video itu dengan volume penuh dan menempelkan speaker laptopnya ke dinding.

Hanya dalam hitungan menit, musik dangdut itu berhenti. Lalu, suara ketukan keras terdengar di pintu apartemennya.

Hana tersenyum penuh kemenangan sebelum membuka pintu. Di sana, berdiri Raffa dengan ekspresi bingung.

“Kenapa ada suara bayi menangis?” tanya Raffa tanpa basa-basi.

“Oh, itu. Aku cuma pengen hiburan aja,” jawab Hana santai, menirukan gaya bicara Raffa sebelumnya.

Raffa mengerutkan kening. “Hiburan?”

“Iya. Kamu kan sering bilang, hidup ini harus santai. Jadi, aku santai aja.”

Raffa mendengus pelan, lalu tiba-tiba tersenyum. “Kamu sengaja, ya?”

Hana mengangkat bahu dengan wajah polos. “Aku nggak tahu kamu ngomong apa.”

Raffa menatapnya sejenak, lalu tertawa kecil. “Oke, Mbak Hana. Kalau itu caramu membalas, aku terima tantangan ini.”

Hana menutup pintu dengan cepat, merasa cemas. Apa dia serius?

Tantangan Dimulai

Keesokan harinya, Hana menemukan sesuatu yang aneh di depan pintunya. Sebuah balon besar berbentuk hati dengan tulisan: “Jangan marah-marah terus, ya. Santai aja :)”

Ia memandang balon itu dengan bingung, lalu bergegas ke apartemen Raffa. Pintu langsung terbuka sebelum Hana sempat mengetuk.

“Kamu sengaja taruh ini, ya?” tanya Hana sambil mengangkat balon itu.

Raffa hanya tersenyum lebar. “Kamu kan butuh hiburan. Aku bantu.”

“Apa maksudmu?”

“Maksudku, hidup ini lebih indah kalau ada sedikit humor. Kamu terlalu serius, Mbak Hana.”

Hana memutar matanya, merasa percuma berdebat dengan pria itu. Tapi dalam hati, ia tidak bisa menahan diri untuk tersenyum kecil.

Sabtu, Maret 08, 2025

Novel "Behind The Rain" Bab 1 Perkenalan Penuh Emosi

Sinopsis

Hana, dia seorang Wanita yang bekerja disebuah kantor pemasaran, kehidupnya mulai berubah ketika ia terlibat dalam serangkaian peristiwa konyol dengan Raffa, tetangga barunya yang sombong tetapi menawan. Dimulai dari berbagai perselisihan kecil di antara mereka yang perlahan berkembang menjadi romansa tak terduga, dengan berbagai momen kocak, menyentuh, dan penuh kejutan.
"Behind The Rain"

Bab 1: Perkenalan Penuh Emosi

Hana melangkah keluar dari lift dengan ekspresi lelah. Kantong belanja di tangannya hampir robek karena terlalu penuh, dan tubuhnya terasa lemas setelah bekerja seharian di kantor. Di dalam pikirannya, ia hanya terlintas satu hal: berbaring di sofa sambil menonton serial drama korea favoritnya, ditemani segelas coklat hangat.

Namun, semua rencana yang melintas dipikirannya langsung buyar begitu ia melihat pemandangan di depan parkiran apartemennya.

Sebuah mobil SUV hitam besar terparkir dengan posisi menyerong, menutup hampir seluruh akses ke parkiran pribadinya. Hana menghentikan langkah, menarik napas panjang, dan memejamkan mata sejenak.

“Tenang, Han Tenang. Jangan marah-marah dulu. Mungkin ini cuma salah paham,” gumamnya pada diri sendiri.

Namun, rasa tenangnya langsung menguap begitu melihat ada tanda “Penghuni Tetap” di kaca mobil itu. Dengan cepat, ia menghampiri mobil tersebut dan mengetuk jendelanya. Tidak ada respons. Ia mengetuk lagi, kali ini lebih keras. Tetap tidak ada jawaban.

“Astaghfirullah, siapa sih yang parkir sembarangan gini?” gerutunya sambil melihat ke sekeliling. Area parkiran itu sunyi.

Saat hana masih berdiri dengan ekspresi sebal, suara langkah kaki terdengar dari arah lorong. Seorang pria muncul dari pintu apartemen sebelah, mengenakan hoodie abu-abu dan celana pendek, membawa kantong plastik kecil berisi snack.

Pria itu terlihat santai, bahkan terlalu santai untuk situasi ini. Wajahnya lumayan tampan, dengan rahang tegas dan alis tebal yang menambah kesan percaya diri. Namun, bagi Hana, aura pria itu hanya mempertegas bahwa dia adalah manusia yang menyebalkan.

“Eh, mobil ini punya kamu?” tanya Hana dengan nada tegas, sambil menunjuk SUV hitam itu.

Pria itu berhenti sejenak, lalu mengangguk. “Iya, kenapa?”

Hana ternganga. “Haaahh… Kenapa? Karena kamu parkir sembarangan, itu kenapa! Aku bahkan nggak bisa masuk ke parkiranku sendiri. Ini parkiran penghuni, tahu?”

Pria itu mengangkat alis, seolah tak terpengaruh dengan nada tinggi Hana. “Oh, maaf. Aku cuma sebentar kok. Lagi nunggu kiriman.”

“Sebentar atau lama, itu tetap nggak sopan!” Hana mulai kehilangan kesabaran.

Pria itu menghela napas panjang, lalu dengan santai berkata, “Baiklah, aku pindahkan. Tapi santai saja ya mba ya, nggak usah marah-marah gitu. Hidup ini nggak perlu setegang itu ko.”

Kalimat itu sukses membuat darah Hana mendidih. Namun, ia menahan diri untuk tidak membalas. Pria itu masuk ke mobilnya, memundurkannya ke posisi yang benar, lalu keluar lagi. Sebelum kembali ke apartemennya, dia sempat menoleh ke arah Hana.

“Selesai, ya Mbak. Sudahkan sekarang sudah tidak terhalang lagi, sudah puaskan?” ujarnya sambil tersenyum tipis.

Hana mendengus. “Ini bukan soal puas atau nggak ya mas ya. Ini soal sopan santun.”

Pria itu hanya mengangkat bahu sebelum masuk ke apartemennya dan menutup pintu dengan santai. Hana berdiri terpaku di tempatnya, dan masih merasa sangat kesal dengan pria arogan itu.

“Dasar manusia menyebalkan,” gumamnya sambil membawa kantong belanja masuk ke apartemennya.

Apartemen Hana

Setelah meletakkan kantong belanja di dapur, Hana menjatuhkan diri ke sofa. Ia mencoba melupakan kejadian tadi dan fokus pada serial drama favoritnya. Namun, ketenangan itu tidak bertahan lama.

Dari dinding sebelah, terdengar suara musik dengan dentuman bass yang keras. Hana langsung menegakkan tubuhnya. Lagu EDM mengguncang ruangan, membuat suasana yang tadinya tenang berubah menjadi bising.

“aarrrggghhhh…. Dia muter musik kencang gitu malam-malam?” Hana menutup kedua telinganya dengan bantal di sofa.

Dia mencoba menenangkan diri dengan menyumpal telinga menggunakan earphone, tapi dentuman itu terlalu kuat untuk diabaikan. Akhirnya, dia berdiri dan mengetuk dinding dengan keras.

“Hey! Bisa kecilin musiknya nggak?” teriak Hana.

Tidak ada respons. Musik itu tetap berdentum seperti pesta tengah malam. Hana meraih ponselnya, mengetik pesan ke grup penghuni apartemen.

Hana: “Tetangga di unit 304 bisa nggak pelan-pelan sedikit? Ini sudah lewat jam 9 malam!”

Tak lama, sebuah pesan masuk.

Penghuni 304: “Santai aja, Mbak. Aku lagi butuh hiburan. Kalau keberisikan, pakai earplug aja.”

Hana hampir melempar ponselnya. Dia mendengus keras, lalu menulis balasan:

Hana: “Pakailah sopan santun, Mas. Ini bukan studio musik, ini apartemen!”

Namun, pesan itu tidak direspons lagi. Musik tetap berdentum keras, membuat Hana merasa frustasi.

Keesokan Harinya

Keesokan pagi, Hana berjalan ke arah lift sambil membawa laptop dan tas kerja. Di depan lift, dia bertemu pria dari unit 304 itu lagi. Kali ini, pria itu terlihat lebih rapi dengan kemeja putih dan celana bahan hitam.

“Pagi,” sapa pria itu dengan senyuman yang menurut Hana lebih seperti ejekan.

Hana hanya mendengus, tidak ingin memulai percakapan.

Lift terbuka, dan mereka berdua masuk. Dalam keheningan yang canggung, pria itu tiba-tiba berkata, “Oh ya, soal tadi malam, maaf ya kalau terlalu berisik. Aku nggak sadar sudah larut malam.”

Hana menoleh dengan ekspresi skeptis. “Benarkah? Kamu kayaknya sadar banget, deh.”

Pria itu terkekeh. “Aku Raffa, by the way. Tetangga barumu.”

Hana hanya mengangguk dingin. “Hana.”

Raffa mengangguk dengan senyum lebar. “Nice to meet you, Mbak Hana yang suka tegang.”

Hana memutar mata, memilih diam sampai lift tiba di lantai dasar. Dalam hati, dia berharap tidak perlu berurusan lagi dengan pria menyebalkan itu. Tapi, entah kenapa, firasatnya berkata bahwa hidupnya baru saja menjadi sedikit lebih rumit.

Minggu, September 18, 2022

ALUR CERITA BIG MOUTH DRAMA KOREA

 ALUR CERITA BIG MOUTH DRAMA KOREA

Alur Certa Big Mouth Drama Korea

Drama Korea Big Mouth adalah sebuah film yang menceritakan sebuah kasus identitas yang salah dan berubah menjadi sebuah perjuangan untuk bertahan hidup.

Dua Episode, seri kejahatan/thriller noir yang dibintangi Lee Jong-Suk dan YoonA dari Girls' Generation ini telah mengatur adegan untuk sebuah konflik David vs Goliath, yang membuat banyak lapisan menunggu film tersebut untuk diurai.

Kasus kesalahan identitas merupakan hal yang lumrah dalam buku dan kisah salam K-drama, baik itu peralihan antara saudara kandung (kembar atau sebaliknya), teman yang saling mendukung, atau kasus amnesia yang merupakan kasus yang klasik dalam drama korea. Hanya Pendekatannya saja yang mungkin berbeda, akan tetapi ketika seseorang menelita kisah dalam konteks drama atau thriller k-drama, seringkali bermuara pada sebuah perjuangan untuk bertahan hidup.

Hal Itu jelas menjadi daftar prioritas teratas untuk Park Chang-ho (Lee Jong-suk, yang akhirnya kembali ke TV sejak film Romance is a Bonus Book yang dirilis tahun 2019), protagonis dari serial kejahatan/thriller noir terbaru MBC yaitu "Big Mouth”. Yang menceritakan kisah seorang pengacara swasta yang masih praktek dengan tingkat kemenangan hanya 10%, yaitu Park Chang-ho yang kemudian dijuluki sebagai 'Big Mouth' karena ia dikenal sebagai seorang pengacara yang bermulut besar tanpa keterampilan lain yang memadai layaknya seorang pengacara. Dia mencapai titik terendah saat kalah dalam kasus yang berpusat pada penipuan, bahwa dia juga merupakan seorang korban yang akhirnya membuat marah orang-orang yang dia wakili di pengadilan. Dan lebih buruk lagi, akhirnya ia terlibat hutang karena telah meminjam uang dari seorang rentenir dengan tujuan untuk tetap bertahan hidup dan mengganti biaya yang dia keluarkan karena telah memakai uang istrinya, dan tidak pernah menceritakan prihal utang tersebut kepada istrinya yang merupakan kekasihnya semasa  SMA yaitu Go Mi-ho (YoonA dari Girls’ Generation).

Ketika Park Chang-ho didekati oleh walikota Choi Do-ha (Kim Joo-hun) untuk menangani kasus pembunuhan yang melibatkan orang orang ternama, pengacara yang saat itu sedang putus asa percaya bahwa dia akhirnya mendapatkan terobosan besar. Namun, situasinya berbalik ketika dia mengambil risiko dan melintasi maestro media kejam Gong Ji-hoon (Yang Kyung-won), mencoba memanfaatkan bukti kunci untuk keuntungan pribadi.

Setelah mengalami kecelakaan mobil pada malam ulang tahun pernikahannya, Chang-ho ditangkap di rumah sakit karena dicurigai menggunakan narkoba. Dia kemudian dituduh sebagai Big Mouse, yaitu seorang gangster yang sangat dicari sekaligus seorang penipu jenius yang mencuri dana gelap dari NR Forum, sebuah organisasi rahasia yang didukung oleh eselon atas dunia bisnis Korea – termasuk Ji-hoon.

 

Akhirnya Park Chang-ho dijebloskan ke penjara, dan ironisnya, dia dimasukkan pada penjara di mana pelanggaran hukum dibagi berdasarkan kelasnya. dan inilah dia mulai perjuangannya untuk bertahan hidup di lingkungan yang paling korup. Meskipun Tikus Besar dijauhi oleh sesama narapidana, ia menemukan sekutu awal dalam teman satu selnya Jerry (Kwak Dong-yeon) dan No Bak (Yang Hyung-wook).

Sementara itu, Mi-ho, yang dikenal sebagai “pemecah masalah keluarga”, menolak untuk duduk dan meratapi situasi suaminya. Bahwa suaminya adalah seorang pelaku kejahatan, dan dia mengambil langkah berani masuk ke sarang singa dengan melamar bekerja di rumah sakit pusat kasus pembunuhan. Terlepas dari keraguan yang dia miliki tentang pilihan Chang-ho, kesetiaan dan kepercayaannya pada suaminya adalah yang memotivasi dia untuk mengungkap kebenaran dan berusaha membersihkan namanya.

Untuk sebuah drama bertema noir, Big Mouth tidak sepenuhnya gelap dan suram, setidaknya seperti yang terlihat di dua episode pertamanya. Ini memiliki bagian yang adil dari momen yang lebih ringan, sebagian besar berpusat pada dinamika Chang-ho dengan Mi-ho dan ayah mertuanya (Lee Ki-young), mantan perwira polisi yang menjadi manajer kantor. Secara khusus, hubungan dekat antara kedua pria tersebut ditambatkan oleh chemistry yang mudah dan nyaman antara kedua aktor, yang telah berakting bersama di While You Were Sleeping tahun 2017. (Sutradara Big Mouth Oh Choong-hwan juga memimpin drama itu.) Meski terlihat menggelegar ketika dihadapkan pada tema-tema yang lebih gelap dari korupsi dan penyalahgunaan kekuasaan, Chang-ho yang baru dipenjara tampaknya bergantung pada cahaya ini. -kenangan hati sebagai sumber kekuatan.

Lee Jong-suk secara mengagumkan mencakup banyak bidang dimensi sebagai Chang-ho hanya dalam dua episode, mulai dari seorang pengacara yang berbicara halus, menantu yang akrab dan suami yang berlidah manis menjadi 'agen ganda' yang cerdik dan kemudian seorang narapidana yang dipukuli yang harus memutuskan antara melawan atau melarikan diri. Dia menawarkan kontras dengan penggambaran YoonA yang membumi namun cerdik tentang Mi-ho, yang juga memikirkan kelangsungan hidup – meskipun dalam perlombaan tikus sosial. Chemistry mereka sebagai pasangan cukup meyakinkan; Namun, seperti yang diungkapkan kedua aktor dalam wawancara baru-baru ini, tampaknya mereka tidak akan tampil bersama di episode berikutnya.

Aktor lain yang layak disebutkan adalah Yang Kyung-won, yang membawakan kelegaan komik kepada pemirsa di Vincenzo dan Crash Landing on You. Dia kemudian membalikkan 180 derajat sebagai antagonis Du-sik di Hari Biasa, mengangkat wajah orang-orang dan membiarkan tinjunya berbicara. Di Mulut Besar, penggambaran Yang tentang Ji-hoon sengaja ditahan; ini juga tampak lebih mudah berubah, membuktikan bahwa lebih banyak tentu lebih banyak.

 

Meskipun drama premis David dan Golia telah datang hal baru, itu menarik minat untuk apa lagi yang akan: konspirasi rumah sakit, pertempuran yang akan datang untuk keadilan, politik di kekuasaan dalam NR Forum – dan akhirnya, sebenarnya identitas dari Big Mouse . Saat drama berlangsung, orang hanya bisa berharap bahwa Mulut Besar akan terus melanjutkan uangnya tidak pada tempatnya, dan tidak menggigit lebih dari yang bisa dikunyah.

Featured Post

Novel "Behind The Rain" Bab 6 : Undangan Tak Terduga

  Bab 6: Undangan Tak Terduga Hari itu, Hana baru saja selesai membereskan pekerjaannya saat sebuah pesan muncul di grup penghuni aparteme...